BAB 1: Alasan Menulis Buku Ini

BAB 1: Alasan Menulis Buku Ini
Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Sukarno adalah seorang mahapencinta. Dia mencintai negerinya, dia mencintai rakyatnya, dia mencintai perempuan, dia mencintai seni, dan diatas segala-galanya dia mencintai dirinya sendiri.

Sukarno seorang yang penuh perasaan dan menghargai keindahan. Bagi Sukarno, lebih baik ia diberi sebuah pisang yang diiringi sebuah simpati dari lubuk hati yang dalam, maka Sukarno akan menyukaimu selama-lamanya. Daripada ia diberi seribu juta dollar dan disaat bersamaan wajahnya ditampar di depan umum, maka sekalipun nyawa taruhannya, Sukarno akan memakimu.

Suatu hari Sukarno pernah mendapat dua laporan yang bertentangan mengenai dirinya. Pertama, suatu ketika majalah Look menyatakan seluruh rakyat Indonesia menentang Sukarno dengan memuat sebuah tulisan yang mengutip seorang tukang becak yang tidak menyukai Sukarno yang seolah-olah keadan di Indonesia sudah parah dan orang-orang desa pun sudah muak terhadap Sukarno.

Kedua, saat jalan-jalan sore setelah membaca artikel tersebut, pada pukul 5 sore Sukarno keliling di lingkungan Istana Negara, Sukarno bertemu dengan pejabat polisi yang bercerita bahwa tempat di mana perempuan-perempuan pekerja seks di lokalisasi di setiap sudut kamarnya terdapat potret Sukarno. Polisi tersebut sebenarnya menunggu perintah Sukarno untuk melepas potret-potret yang ada di tempat pelacuran, namun Sukarno tidak memerintahkan hal tersebut. Sukarno dikutuk seperti bandit, dipuja seperti dewa.

Banyak orang yang percaya bahwa Sukarno memiliki kekuatan supernatural. Seorang petani kelapa yang anaknya sakit keras pernah bermimpi datang kepada Sukarno guna meminta air darinya supaya anak petani tersebut sembuh. Sukarno tidak bisa berdebat dengannya, maka Sukarno pun memberikan air leding biasa, seminggu kemudia anak itu sembuh dari sakitnya.

Saat Sukarno mengunjungi sebuah desa kecil di Jawa Tengah, pelayannya dibisiki oleh salah seorang penduduk yang sedang hamil. Ia meminta untuk tidak memberekan piring bekas makan Sukarno dan meminta menyisakan apapun yang dimakan oleh Sukarno supaya perempuan hamil tersebut memakan makanan yang pernah dijamah oleh Sukarno agar kelak anaknya bisa seperti Sukarno.

Di bali, orang percaya bahwa Sukarno adalah titisan Dewa Wisnu, Dewa Hujan dalam agama Hindu karena setiap Sukarno singgah di Tampaksiring (tempat peristirahatan tidak jauh dari Denpasar) pasti turun hujan, sekalipun sedang musim kemarau.

Wartawan-wartawan selalu menulis bahwa Sukarno adalah “budak Moskow”. Sukarno jelas bukan, tidak pernah, dan tidak mungkin menjadi seorang komunis. Sukarno membungkukkan badan ke Moskow? Jelas tidak! Mereka (para wartawan) selalu menulis hal-hal buruk mengenai Sukarno, tidak menulis hal-hal baik dari Sukarno.

Pihak barat selalu menuduh Sukarno bermuka manis terhadap negara-negara sosialis seperti Cina dan Rusia. Ya memang Sukarno menjaankan politik netral, namun pihak Cina maupun Rusia tidak pernah mengizinkan medianya memberitakan hal-hal buruk mengenai Sukarno. Itulah mengapa Sukarno sangat dekat dengan mereka sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan karena mereka sealalu menunjukan rasa persahabatan dan tidak berusaha melukai hati Sukarno. Semua yang Sukarno ucapkan adalah rasa terima kasih, bukan komunisme.

Bulan Juni 1960 terdapat sindiran “have 707 will travel” yang ditujukan kepada Sukarno karena ia terlalu banyak melakukan kunjungan atau perjalanan ke negara-negara luar seperti India, Hongaria, Austria, Mesir, Guinea, Tunisia, Marokko, Portugal, Cuba Puerto Rico, San Francisco, Hawai, dan Jepang selama 2 bulan 4 hari. Kunjungan yang dilakukan oleh Sukarno banyak disindir dan mendapat kritikan. Sukarno memiliki sebuah alasan dibalik kunjungannya tersebut yaitu agar Indonesia banyak dikenal orang dan memperlihatkan kepada mereka bahwa Indonesia bukan bangsa tolol seperti apa yang disebut oleh orang-orang Belanda.

Pernah sebuah majalah remaja Amerika memperlihatkan gadis setengah telanjang dengan hanya memakai celana dalam berdiri di samping Sukarno. Apa yang mereka lakukan semata demi memperlihatkan hal-hal yang sensasional dan mengambil keuntungan dari Presiden Republik Indonesia itu. Apakah dengan kejadian ini Sukarno harus mencintai Amerika? Walaupun begitu, Sukarno sangat dekat dengan Presiden Amerika, Kennedy dan menceritakan hal keji tersebut kepadanya.

Seorang asing yang begitu dekat dengan Sukarno adalah Howard Brown, Duta Besar Amerika untuk Indonesia menyarankan Sukarno untuk membuat otobiografi. Awalnya Sukarno menolak karena ia masih yakin hidup 10 hingga 20 tahun lagi dan ia merasa sebuah otobiografi harus memiliki keseimbangan antara subyektifitas dan obyektifitas. Sampai pada akhirnya Sukarno bertemu dengan Cindy Adams, seorang wartawati asal Amerika yang merupakan istri dari pelawak Joey Adams yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Bersama Cindy Adams, Sukarno membuat otobiografinya yang menjelaskan banyak hal, mulai dari Perang Dunia 2 apakah Sukarno seorang kolaborator atau bukan, apakah Sukarno komunis? Mengapa Sukarno tidak setuju mengenai kebebasan pers? Apakah Sukarno seorang diktator? Berapa banyak istrinya? Mengapa Sukarno membangun departement-store sementara rakyatnya compang camping? Hanya Sukarno lah yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut yang tersusun rapi di otobiografinya “Bung Karno Sang Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”.

Subscribe to receive free email updates: