Slamet Harus Selamat

Slamet Harus Selamat
Situasi banjir bandang.

Lima sungai besar di Banyumas yang meliputi sungai Cipendok, Logawa, Pelus, Mengaji, dan Banjaran meluap akibat curah hujan tinggi pada Minggu sore (15/10).

Diduga bencana tersebut adalah akibat adanya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di lereng gunung Slamet yang merupakan hulu dari sungai-sungai tersebut.

Sungai-sungai tersebut memang berhulu di lereng gunung Slamet, namun hanya sungai Cipendok saja yang lokasinya berdekatan dengan proyek PLTPB Baturaden.

Kondisi ini tak ayal membuat masyarakat berkesimpulan bahwa penyebab bencana ini semua adalah akibat dari proyek PLTPB tersebut. Masih banyak terjadi pro dan kontra terhadap proyek tersebut di Baturaden.

PT Sejahtera Alam Energi (PT SAE) merupakan pengembang proyek PLTPB di di Baturaden, Kabupaten Banyumas. Proyek tersebut mendapat banyak tentangan dari masyarakat sekitar dan aktivis lingkungan.

Mengapa demikian? Proyek yang kini telah masuk pada tahap eksplorasi ini pada saat pembukaan (tahap pertama) melakukan pembabatan hutan secara besar-besaran.

Dikutip dari braling.com, data Dinas Lingkungan Hidup & Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyumas, sebelum adanya proyek PLTPB di Gunung Slamet, dalam kurun waktu sepuluh tahun, dari 2001 sampai dengan 2011 ada 1.321 mata air yang hilang.

Faktor penyebabnya alih fungsi lahan dan perambahan hutan (deforestasi). Tanpa adanya proyek PLTPB, ribuan sumber mata air saja sudah hilang, apalagi sejak adanya proyek PLTPB tersebut di lereng Gunung Slamet.

Pada dasarnya, Tuhan menyediakan alam beserta isinya agar dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai penghuni inti bumi. Namun terkadang apa yang dilakukan oleh manusia melebihi batasnya.

Eksplorasi yang dilakukan memang pada awalnya mencari titik sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Walaupun belum masuk ke tahap ekploitasi, tahap eksplorasi pun pastinya berdampak negatif pada alam sekitar.

Hutan lindung Gunung Slamet merupakan hutan hujan tropis dataran tinggi yang terbentuk ribuan tahun secara alami dan saat ini menjadi jantung hutan alam di Pulau Jawa dan menjadi penyangga ekosistem di Jawa.

Pembabatan hutan dan alih fungsi hutan dalam jumlah besar akan sangat berpengaruh pada kestabilan ekosistem di Jawa. Maka dari itu perlunya menjaga keseimbangan ekosistem alam Slamet.

PLTPB merupakan program pemerintah yang dimandatkan pada PT SAE untuk menggarap proyek energi terbarukan tersebut. Tujuan pemerintah adalah untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Tentu hal tersebut harus disikapi dengan cara yang bijak. Baik buruknya pemanfaatan alam memang masih menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Kebutuhan akan pemanfaatan sumber daya alam memang tidak bisa dihindari, namun jangan sampai eksplorasi yang diikuti eksploitasi menjadi eksploitasi yang berlebihan.

Bencana yang terjadi di Banyumas beberapa waktu silam memang tidak boleh dialamatkan saja akibat adanya proyek PLTPB. Kejadian itu bisa dicermati sebagai keadaan alam biasa.

Namun dengan adanya proyek tersebut, sedikit banyak menambah intensitas peluang datangnya bencana kendati memang bukan sepenuhnya salah proyek tersebut karena hanya ada satu diantara lima sungai yang letaknya di dekat lokasi proyek PLTPB yang pada Minggu lalu meluap.

Jika ekplorasi ini berlanjut ke tahap ekploitasi, maka siapa yang akan bertanggungjawab terhadap keselamatan warga Jawa Tengah? Mengingat gunung Slamet adalah nyawanya warga Jawa Tengah.

Jika Slamet meletus, apakah warga Jawa Tengah bisa selamat? Gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut diberi nama “Slamet” memang bermakna bahwa gunung tersebutlah kunci keselamatan warga Jawa Tengah.

Apakah saat Slamet meletus akibat “diusik” oleh manusia, pemerintah akan bertanggungjawab?

Saat Gubernur Ganjar Pranowo mendukung proyek semen di pegunungan Kendeng, maka saya masih bisa sepakat karena efek alamnya tidak terlalu besar kendati pasti sedikit banyak merusak lingkungan sekitar.

Namun di kasus Slamet, sang gubernur alumnus GMNI ini harus menjadi garda terdepan menjaga keselamatan gunung Slamet agar warga Jawa Tengah tetap selamat.

Saat di Rembang dia dikatakan marhaenis gadungan, maka buktikan di Slamet bahwa ia adalah marhaenis sejati yang berusaha mempertahankan hak dan hajat hidup masyarakat kecil.

Slamet ada bukan untuk disakiti dan diambil manisnya. Jika ada pepatah mengatakan habis manis sepah dibuang, jangan salahkan sepah tersebut yang cepat atau lambat akan menghukum keserakahan manusia.


Gambar: Radar Banyumas

Subscribe to receive free email updates: